FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PAMULANG HELAT KULIAH UMUM ANALISIS WACANA KRITIS

Sabtu, 14 November 2020, Fakultas Sastra Universitas Pamulang gelar General Lecture online bertemekan Analisis Wacana Kritis (AWK): Praktek dan Penerapannya. Kuliah umum ini diikuti oleh 500 peserta dengan latar belakang mahasiswa dan dosen dan diampu oleh Dr. Haryatmoko, pengajar di Universitas Sanata Dharma dan beberapa kampus ternama lainnya.

Seorang intelektual yang akrab dipanggil Romo Moko ini telah menulis berbagai karya termasuk di antaranya buku yang dijadikan bahan kuliah umum ini yakni yang berjudul Analsisi Wacana Kritis. Pembahasan AWK dalam buku Critical Discourse Analysis inilah yang menjadi bahan diskusi utama dalam general lecture online. Acara ini dipandu oleh Varatisha Anjani Abdullah,  dibuka oleh Dekan Fakultas Sastra, Dr. M. Ramdon Dasuki Lc., M.A., dan dimoderatori oleh Awla Akbar, S.S., M.A.

Haryamoko mengawali kuliah umum ini dengan memaparkan sejarah singkat Critical Discourse Analysis. Menurutnya, metode Analisis Wacana Kritis merupakan metode baru dalam penelitian ilmu sosial budaya. Pada tahun 1991 beberapa tokoh seperti Van Dijk, Fairclough, G. Kress, Van Leeuwen dan Wodak mengadakan pertemuan, dan momen tersebut dianggap sebagai peresmian metode AWK sebagai metode penelitian dalam ilmu sosial dan budaya. Para pionir AWK ini merumuskan tiga postulat. Pertama, semua pendekatan harus berorientasi pada masalah sosial dengan pendekatan lintas ilmu, setidaknya dibutuhkan pemahaman mengenai teori linguistik dan teori sosial untuk menggunakan metode AWK, kedua, tujuan utama dari AWK adalah demistifikasi ideologi dan ketiga, reflektif dalam penelitian.

Lebih lanjut Haryatmoko menjelaskan bahwa ada empat langkah metode AWK Fairclough. Pertama, fokus pada ketidakberesan sosial dalam aspek semiotiknya. Ketidakberesan sosial bisa berupa kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, diskriminasi, prasangka negatif, dan kurangnya kebebasan. Kedua, mengidentifikasi hambatan-hambatan untuk menangani ketidakberesan sosial itu. Ketiga, mempertimbangkan apakah tatanan sosial itu membutuhkan ketidakberesan sosial tersebut. Keempat, mengidentifikasi cara-cara yang mungkin untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. 

Ada perbedaan mendasar antara AWK dengan Analisis Wacana, ungkap Haryatmoko. Dalam analisis wacana (objektif), peneliti harus mengambil jarak, hubungan dengan teks bersifat objektif, dan peneliti tidak melibatkan diri. Sedangkan dalam AWK, peneliti telah menentukan posisi, berpihak dan membongkar ketidakberesan sosial. Karakteristik AWK ini mendapat pengaruh dari Pemikiran Kritis (Mazhab Frankfurt).

Analisis Wacana Kritis dewasa ini menjadi metodologi yang banyak digunakan untuk penelitian di media dan permasalahan di bidang sosial, budaya, politik terutama dalam menyelesaikan diskriminasi, ketidakadilan serta dominasi. “Sebagai generasi muda, mahasiswa perlu memiliki AWK untuk mengkritisi bahasa yang digunakan suatu pihak. Dengan memahami AWK, maka informasi yang diberikan tidak akan diterima begitu saja melainkan ditelusuri terlebih dahulu “makna tersirat” dalam bahasa tersebut.” jelas Haryatmoko.