SASTRA INGGRIS UNIVERSITAS PAMULANG GELAR SEMINAR NASIONAL ONLINE

Prodi Sastra Inggris, Universitas Pamulang (Unpam), menggelar seminar nasional online dengan tema “Rejuvenating The Roles of Literature, Linguistics and Language Teaching in The Intercultural Society” (Selasa, 20/10/2020). Para pembicara pada seminar ini terdiri dari berbagai universitas ternama di Indonesia, di antaranya ialah: Prof. Dr. Riyadi Santosa, M.Ed., Ph.D, dari Universitas Negeri Surakarta,  Isti Siti Saleha Gandana, S.Pd., M.Ed., Ph.D dari Universitas Pendidikan Indonesia, Winda Setia Sari, S.S., M.Hum, Ph.D dari Universitas Negeri Medan, dan Dr. Mohamad Ramdon Dasuki, Lc., MA dari Universitas Pamulang. Keseluruhan acara ini dipandu oleh Eka Margianti Sagimin, S.S., M.Pd selaku MC seminar.

Dalam sambutannya, Sukma Septian Nasution selaku Ketua Panitia menyampaikan bahwa sejatinya seminar ini bertujuan untuk merejuvinasi atau menyegarkan kembali metakognisi peserta tentang peranan sastra, linguistic dan pembelajaran bahasa dalam ranah masyarakat multicultural. Titik tekan tema ini ialah pada upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran akan adanya keseteraan antar budaya, dan menyeimbangkan kembali ketimpangan relasi yang terjadi di masyarat multicultural.

Seminar yang dihadiri oleh 800 peserta ini dibuka oleh Rektor Unpam, Dr. Dayat Hidayat, M.M.. Dalam sambutannya, rector menekankan agar seminar-seminar nasional dan internasional di lingkungan Universitas Pamulang ini terus digalakkan. Tentunya ini dilakukan untuk memperkenalkan Universitas Pamulang kepada masyarakat akademik dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan diadakannya seminar, Universitas Pamulang dapat dikenal sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai tridarma perguruan tinggi.

Seminar ini dibagi menjadi dua sesi: seminar umum yang disampaikan oleh empat pembicara dan seminar parallel. Dalam pemaparannya tentang rejuvinasi dalam tataran linguistik, Prof Riyadi mengemukakan pentingnya systemic functional grammar dalam mengamati fenomena social-kebudayaan secara menyeluruh. Prof Riyadi mengklaim bahwa SFL tampak lebih comprehensive jika digunakan untuk mengamati realitas social yang ada di sekeliling kita.

Terkait sastra, Winda memandang perlunya dekolonisasi kesusasteraan Inggris. Banyak sekali karya-karya sastra yang mencoba berusaha menawarkan alternative pemikiran lain yang tidak melulu terpusat pada hal-hal yang berbau Inggris. Langkah pertamanya ialah revisi atas tradisi kesusteraan kulit putih yang seolah memertahankan relasi kuasanya atas yang lain, kedua, resistensi terhadap kebudayaan dominan dan ketiga, melakukan dialog antar teks.

Winda mencontohkan Chinua Achebe, Conrad, Charlotte Bronte, Rabindranath sebagai sastrawan yang memiliki kecenderungan demikian. Sementara itu, Isti Siti Saleha Gandana menyampaikan tiga hal penting; pertama, soal globalisasi yang menuntut kita untuk mengenal lebih jauh tentang sang Liyan; kedua, kesalahpahaman budaya dapat memunculkan persoalan pada tataran komunikasi dan ketiga, bahasa di ruang kelas memiliki peranan penting bagi pembelajaran intra-budaya.

Pembicara keempat, Dr. Moh. Ramdon Dasuki mencoba melengkapi pembicaraan inter-budaya ini dengan menekankan pentingnya filsafat sebagai landasan bagi pembicaraan mengenai sastra, linguistic dan pembelajaran bahasa. Filsafat merupakan elan vital bagi laju perkembangan pemikiran kesusasteraan, linguistic dan pengajaran bahasa dan dalam mengembangkan ranah ini, religiusitas harus menjadi ruh yang menginspirasi bagi kerja-kerja kebudayaan.

Setelah sesi utama ini, seminar selanjutnya dilakukan secara parallel dan para peserta dibagi ke dalam tiga room seminar.