BANGKITKAN PRODUKTIVITAS MENULIS, FAKULTAS SASTRA UNPAM HELAT PELATIHAN MENULIS KARYA FIKSI

Gerakan produktif menulis terus dikumandangkan oleh Prodi Sastra Inggris dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Pamulang. Salah satu wujud nyata dari gerakan ini adalah Pelatihan Menulis Kreatif bagi dosen-dosen dengan tema “Tips Menulis Cerpen dan Novel” (10/08/2020) yang menghadirkan Ni Komang Ariani sebagai pembicara.

Ni Komang Ariani merupakan dosen, trainer kepenulisan, novelis sekaligus cerpenis koran nasional. Pernah mendapat dua kali penghargaan menjadi 10 Besar Khatulistiwa Literary Award melalui novel Senjakala dan Bukan Permaisuri.

Kegiatan Creative Writing yang berlangsung secara daring ini dibuka oleh Tryana, S.S. M.A., Ketua Prodi Sastra Inggris Universitas Pamulang.

Dalam sambutannya, Tryana berharap dengan pelatihan ini, para dosen menjadi lebih produktif lagi dengan karya fiksi. Selain itu, dengan pelatihan ini, diharap ada keberlanjutannya, yakni dosen harus bisa memproduksi karya fiksi secara keberlanjutan untuk nanti diedit dan diterbitkan.

Dalam penyampaiannya, Komang mengatakan, syarat menjadi penulis adalah membaca, membaca, dan membaca, lalu menulis. “Membaca saja tidak cukup. Harus dituliskan: Menulis dan membaca seperti bernapas. Satu menghembus, satu menarik napas. Menulis akan garing kalau tidak ada stimulus. Baca terus, tanpa menulis juga sulit,” demikian paparnya sambil mengutip adagium dari Dewi “Dee” Lestari, Sastrawan Nasional.

Untuk sumber ide, Penulis yang pada tahun 2017 terpilih dalam residensi penulis ASEAN-Japan Literary Festival ini menjelaskan, ide ada di mana-mana.

Meski ide datang dari mana saja, dalam menulis cerpen atau novel, kata Komang, harus diadakan observasi terlebih dahulu agar tulisannya bagus dan tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat.

“Karena itu penulis harus fokus dan konsentrasi untuk menulis. Harus melakukan observasi ke lapangan. Untuk menulis novel Manifold, saya bahkan harus riset satu bulan di Thailand,” kata Komang pula.

Untuk memperkaya kosakata, Komang menyarankan juga agar peserta pelatihan membaca puisi-puisi dan sajak-sajak yang ditulis sastrawan terkenal seperti Rendra, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain. “Kalau ada buku puisi terbaru, saya biasanya langsung beli. Ya walaupun saya tidak bisa menulis puisi, paling tidak kata-kata puitis pada karya-karya itu dapat menginspirasi kita serta membantu memperbaharui perbendaharaan kata kita dalam menulis cerpen atau novel,” demikian jelasnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab serta pembuatan grup menulis cerpen dan novel sebagai aktualisasi teori-teori yang sudah didapat selama pelatihan.